GURUKU LAKSANA HITLER (Jakarta, 7 Agustus 2014)



Puisi ini merupakan tumpahan rasa kekecewaan terhadap guruku, entah sadar atau tidak namun sudah terlontar dari wicaranya seperti itu, sesaat aku terdiam namun aku juga tak mengerti dimana letak salahku. Puisi ini juga pesan tersirat untuk semua guru bahwa tak semua perkataan yang terlontak bagsu untuk diucapkan di depan umum, sehingga untuk meluapkan kekecewaan itu terciptalah puisi ini....

SELAMAT MEMBACA...





Tahukah engkau
Wibawamu bagaikan sinar diantara bayang
Layaknya bintang pada sang malam
Menghadirkan suasana baru dalam kehidupan

Tak terbantahkan kharismamu laksana singa jantan
Bersiap menikam mangsa
Tanpa pandang bulu
Tak peduli kau punya kuasa ataupun tidak

Kesewenangan kekuasaan
Tampak abadi dalam dirimu
Kau pendidik bukan politikus
Janganlah menatapku seperti musuh

Kau tunjukan itu dengan kata
Laksana pribadi dalam rumah kaca
Mematulkan apa yang kau rasa
Pada lingkungan pesona

Maling teriak polisi
Itulah cerminan dirimu
Kau yang berjanji kaupun yang ingkar
Peraturan hanyalah tulisan tak bernyawa

Begitu kuat nadamu hingga semua tahu
Tegurlah aku di luar forum
Jangan buka pribadiku untuk umum
Aku mohon pada mu

Kekuasaan
Membuat kau buta
Membuat kau lupa
Membuat kau terlena

Ohh guruku yang tampan
Caramu tak patut ditiru
Sikapmu tak setampan rupamu
Sungguh aku kecewa hari ini

Anginkan tetap berhembus
Membawa kecewa yang ku dera
Masihkan kau sadar?
Bahwa aku wanita


Inspirasi Dari Semua Perjalanan Hidupku Yang Membawa Pada Pendewasaan Diri Menjadi Lebih Baik Demi Kemajuan Bangsa. 

RVN,
Jakarta, 7 Agustus 2014


Komentar